Komisi B DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong penguatan sektor pariwisata berbasis masyarakat. Salah satu langkah nyata dilakukan melalui Kunjungan Dalam Daerah ke Desa Wisata Flory, yang berlokasi di Kalurahan Tlogoadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, pada Rabu, 14 Januari 2026.
Kunjungan ini menjadi momentum penting bagi pengelola Desa Wisata Flory untuk menyampaikan aspirasi secara langsung, terutama terkait penguatan pengelolaan, legalitas Tanah Kas Desa, pembinaan sumber daya manusia (SDM), serta akses terhadap program pemerintah. Semua hal tersebut dinilai krusial agar Desa Wisata Flory mampu naik kelas dan kembali bangkit pascapandemi COVID-19.
Potensi Desa Wisata Flory sebagai Destinasi Berbasis Pemberdayaan Masyarakat
Konsep Pengelolaan Desa Wisata Flory
Desa Wisata Flory dikenal sebagai salah satu contoh desa wisata yang mengedepankan konsep pemberdayaan masyarakat. Seluruh aktivitas wisata dikelola langsung oleh warga setempat dengan tujuan utama meningkatkan kesejahteraan ekonomi lokal.
Ketua II Desa Wisata Flory, Mujiyono, menjelaskan bahwa pengelolaan desa wisata ini dirancang agar masyarakat tidak hanya menjadi penonton, melainkan pelaku utama dalam aktivitas pariwisata.
“Kami mengembangkan Desa Wisata Flory dengan konsep pemberdayaan masyarakat. Harapannya, kegiatan wisata ini benar-benar bisa meningkatkan kesejahteraan warga sekitar,” ungkap Mujiyono.
Pendekatan ini sejalan dengan arah pengembangan desa wisata berkelanjutan, di mana aspek sosial, ekonomi, dan budaya berjalan beriringan.
Empat Zona Unggulan Desa Wisata Flory
Sebagai destinasi wisata yang terus berkembang, Desa Wisata Flory memiliki empat zona utama yang menjadi daya tarik bagi wisatawan, antara lain:
- Zona Wisata Outdoor Berbasis Pertanian
Menawarkan pengalaman edukatif seputar pertanian, cocok untuk wisata keluarga dan rombongan sekolah. - Zona Kuliner Tradisional Bali Ndeso
Menghadirkan aneka kuliner khas desa dengan cita rasa tradisional yang autentik. - Zona Agro Buah dan Puri Mataram
Awalnya dikembangkan sebagai kawasan agro buah, kini berkembang menjadi kawasan wisata terpadu dengan nuansa budaya. - Kampung Pramuka
Zona terbaru yang fokus pada kegiatan kepramukaan, pelatihan karakter, dan aktivitas luar ruang.
Keberagaman zona ini menjadikan Desa Wisata Flory memiliki potensi besar untuk menjangkau berbagai segmen wisatawan.
Tantangan Desa Wisata Flory Pascapandemi COVID-19
Perjalanan Desa Wisata Flory Sejak 2017
Ketua I Desa Wisata Flory, Buntoro Sutrisno, menyampaikan bahwa Desa Wisata Flory berdiri sejak tahun 2017 dan sempat mengalami masa keemasan sebelum pandemi COVID-19 melanda.
Pada masa tersebut, kunjungan wisatawan meningkat signifikan dan memberikan dampak ekonomi yang positif bagi masyarakat sekitar. Namun, pandemi menyebabkan banyak aktivitas terhenti dan memukul sektor pariwisata desa.
“Kami pernah berada di titik puncak sebelum pandemi. Sekarang yang bertahan baru beberapa kegiatan,” jelas Buntoro.
Saat ini, aktivitas yang masih berjalan antara lain:
- Kegiatan outbound
- Wisata edukasi Pramuka
- Usaha kuliner desa
Kebutuhan Pembinaan dan Legalitas
Dalam kesempatan tersebut, pengelola menekankan beberapa kebutuhan mendesak agar Desa Wisata Flory dapat bangkit kembali, antara lain:
- Pembinaan SDM pariwisata agar pengelola mampu berinovasi dan beradaptasi
- Kejelasan legalitas Tanah Kas Desa yang digunakan untuk aktivitas wisata
- Akses terhadap program pemerintah, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi
Ketiga aspek ini dinilai sebagai fondasi utama dalam pengembangan desa wisata yang profesional dan berdaya saing.
Respons Komisi B DPRD DIY terhadap Aspirasi Pengelola
Apresiasi terhadap Pengelolaan Berbasis Masyarakat
Ketua Komisi B DPRD DIY, Andriana Wulandari, S.E., M.IP., memberikan apresiasi atas pengelolaan Desa Wisata Flory yang melibatkan masyarakat secara aktif.
Menurutnya, desa wisata harus mampu memberikan dampak ganda, yaitu:
- Menggerakkan ekonomi lokal
- Berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD)
“Desa wisata seperti Flory ini punya potensi besar. Selain menggerakkan ekonomi lokal, pengelolaannya juga harus diarahkan agar ke depan bisa berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah,” tegas Andriana.
Ia menambahkan bahwa seluruh aspirasi yang disampaikan akan dibahas lebih lanjut dalam rapat kerja Komisi B untuk dirumuskan sesuai dengan kebutuhan pengembangan destinasi wisata.
Peran Pemerintah Provinsi dan Kabupaten
Ketua Tim Kerja Kajian SDM Pariwisata Dinas Pariwisata DIY, Arif Sulfiantono, M.Agr., M.S.I., menegaskan bahwa pengembangan pariwisata merupakan bisnis kreatif yang membutuhkan inovasi berkelanjutan.
Ia menjelaskan bahwa:
- Desa wisata berkembang masih menjadi kewenangan pemerintah kabupaten
- Pemerintah provinsi berfokus pada desa wisata maju dan mandiri
- Penguatan SDM menjadi kunci utama dalam seluruh tahapan pengembangan
Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem pariwisata desa yang berkelanjutan dan berdaya saing tinggi.
Pentingnya Legalitas dan Kelembagaan Desa Wisata
Legalitas Tanah Kas Desa sebagai Syarat Utama
Anggota Komisi B DPRD DIY, Reda Refitra Safitrianto, menyoroti pentingnya kejelasan status hukum Tanah Kas Desa yang dimanfaatkan untuk kegiatan pariwisata.
Menurutnya, legalitas menjadi syarat utama agar desa wisata dapat:
- Mengakses bantuan infrastruktur
- Mengikuti program pengembangan pemerintah
- Menjalin kerja sama dengan pihak ketiga
“Kejelasan status hukum Tanah Kas Desa dan kelembagaan pengelola menjadi syarat penting agar desa wisata bisa mendapatkan bantuan infrastruktur maupun program pemerintah,” ujarnya.
Kreativitas dan Ekspansi Pasar
Sementara itu, anggota Komisi B lainnya, Muh. Ajrudin Akbar, S.Sos., menekankan pentingnya kreativitas dan ekspansi pasar agar Desa Wisata Flory mampu bertahan di tengah persaingan destinasi wisata pascapandemi.
Beberapa strategi yang dinilai penting antara lain:
- Inovasi produk wisata
- Pemanfaatan digitalisasi promosi
- Kolaborasi lintas sektor
Harapan ke Depan untuk Desa Wisata Flory
Komisi B DPRD DIY berharap Desa Wisata Flory dapat terus berkembang dengan tetap menjaga:
- Kearifan lokal
- Nilai budaya masyarakat
- Prinsip pariwisata berkelanjutan
Selain itu, sinergi antara pengelola, pemerintah, dan masyarakat dinilai menjadi kunci keberhasilan dalam mendorong Desa Wisata Flory naik kelas sebagai destinasi unggulan di Sleman.
Sebagai inspirasi dan referensi destinasi wisata desa lainnya, wisatawan juga dapat mencari contoh desa wisata yang sukses mengelola potensi lokal secara kreatif dan berkelanjutan.
FAQ Seputar Desa Wisata Flory dan Pengembangan Desa Wisata
- Apa itu Desa Wisata Flory?
Desa Wisata Flory adalah destinasi wisata berbasis masyarakat di Tlogoadi, Sleman, yang mengusung konsep edukasi, kuliner, dan wisata alam. - Kapan Desa Wisata Flory mulai berdiri?
Desa Wisata Flory berdiri sejak tahun 2017 dan sempat mencapai puncak kunjungan sebelum pandemi COVID-19. - Apa saja daya tarik utama Desa Wisata Flory?
Wisata pertanian, Kuliner tradisional Bali Ndeso, Agro buah dan Puri Mataram, dan Kampung Pramuka - Apa tantangan utama pengembangan desa wisata saat ini?
Pembinaan SDM, Legalitas Tanah Kas Desa, Akses program pemerintah, Persaingan destinasi wisata pascapandemi - Mengapa legalitas penting bagi desa wisata?
Legalitas menjadi syarat utama untuk mendapatkan bantuan, pengembangan infrastruktur, dan kerja sama dengan berbagai pihak.
Ringkasan Akhir
Kunjungan Komisi B DPRD DIY ke Desa Wisata Flory menjadi langkah strategis dalam menyerap aspirasi pengelola desa wisata berbasis masyarakat. Dengan potensi besar yang dimiliki, Desa Wisata Flory membutuhkan dukungan nyata berupa pembinaan SDM, kejelasan legalitas, serta akses program pengembangan agar mampu bangkit dan naik kelas pascapandemi.
Penguatan kolaborasi antara pemerintah, pengelola, dan masyarakat, ditambah inovasi serta digitalisasi promosi, diyakini mampu menjadikan Desa Wisata Flory sebagai salah satu contoh desa wisata yang sukses dan berkelanjutan di DIY.
Ingin merasakan sensasi wisata desa yang seru dan edukatif?
Kunjungi sekarang juga desawisatakarangmangu.com dan temukan pengalaman wisata asyik berbasis kearifan lokal.

