
BANYUWANGI — Di sela hijaunya lereng Gunung Ijen, Banyu Kuwung kini semakin menarik minat wisatawan. Pemandian alami yang berada di Dusun Panggang, Desa Licin, ini berkembang pesat sejak dibuka resmi dan kini menjadi destinasi alternatif bagi keluarga, pelancong yang mencari ketenangan, dan pecinta wisata alam.
Dari Lahan Produktif ke Destinasi Wisata
Awalnya area Banyu Kuwung bukanlah tempat rekreasi. Menurut Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat, kawasan itu dulunya dipakai untuk menanam selada air. Melihat potensi sumber mata air dan suasana lereng pegunungan yang sejuk, warga dan pemilik lahan berinisiatif mengembangkan kawasan menjadi tempat pemandian. “Pemilik lahan memutuskan menghibahkan sebagian tanah, dan sejak itu kami bersama pemerintah desa merancang tata kelola wisata yang ramah lingkungan,” kata Ketua Pokdarwis.
Pembukaan resmi pada 2022 menandai transformasi cepat: jalur trotoar sederhana, gazebo santai, hingga fasilitas dasar seperti toilet dan warung dibangun bertahap. Kini Banyu Kuwung dikelola secara kolektif oleh Pokdarwis yang juga memberdayakan warga lokal sebagai pengelola, pemandu, dan pelaku UMKM.
Daya Tarik Alam dan Pengalaman Pengunjung
Yang membuat Banyu Kuwung berbeda adalah kombinasi akses yang relatif mudah dengan suasana pegunungan yang masih terasa alami. Kolam pemandian terbentuk dari aliran mata air pegunungan dengan kedalaman berkisar 60–120 cm — cukup aman untuk berendam santai sekaligus nyaman bagi keluarga dengan anak-anak.
Pengunjung dapat:
- Berendam di kolam berair jernih sambil menikmati udara pegunungan yang sejuk;
- Bersantai di gazebo sembari memandang hamparan hijau lereng Ijen;
- Berkemah di area camping ground sederhana yang disediakan;
- Mencicipi jajanan lokal serta hasil panen sayuran segar di warung-warung sekitar.
Data sementara menunjukkan lonjakan pengunjung akhir pekan yang signifikan sejak area dirapikan: tercatat kunjungan puncak pernah mencapai lebih dari seribu orang pada hari-hari tertentu. Angka ini berkontribusi nyata pada perekonomian lokal—memutar ekonomi mikro seperti warung, penginapan homestay, dan jasa transport lokal.
Sinergi Pemerintah dan Komunitas Lokal
Bupati Banyuwangi menilai pengembangan Banyu Kuwung sebagai langkah strategis memperkaya ragam destinasi wisata di wilayahnya. “Tempat seperti ini penting karena memberi nilai ekonomi bagi desa sekaligus menjaga kelestarian lingkungan jika dikelola benar,” ujarnya saat meninjau lokasi.
Peran Pokdarwis menjadi kunci: mereka tidak hanya mengelola operasional harian, tetapi juga menjaga kebersihan, melakukan pembagian tugas, dan mengorganisir kegiatan budaya atau edukasi lingkungan. Pemerintah daerah membantu dengan perizinan, fasilitasi sarana dasar, serta promosi pariwisata agar kunjungan terdistribusi merata dan tidak menekan lingkungan.
Fasilitas dan Aturan Kunjungan
Agar pengalaman wisata tetap nyaman dan berkelanjutan, manajemen Banyu Kuwung memberlakukan beberapa aturan sederhana:
- Jam operasional: Senin–Kamis 08.00–16.00; Sabtu–Minggu 07.00–16.00; ditutup setiap Jumat untuk kegiatan pembersihan.
- Tiket masuk: terjangkau (mis. Rp5.000 per orang), dengan harga terpisah untuk fasilitas tambahan seperti area camping atau paket pemandian grup.
- Fasilitas: area parkir, musala kecil, toilet umum yang diperbaiki, gazebo, warung makanan minuman lokal, dan camping ground.
- Kebijakan lingkungan: pengunjung diminta tidak membuang sampah sembarangan, membawa kembali sampah plastik, dan mematuhi rambu keselamatan di area kolam.
Upaya konservasi terus dilakukan: penanaman pohon peneduh, pengaturan aliran air agar tidak erosi, serta pembatasan pengunjung di titik-titik sensitif untuk mencegah degradasi habitat alami.
Peluang Ekonomi dan Tantangan Keberlanjutan
Pertumbuhan Banyu Kuwung membuka peluang ekonomi nyata: penambahan lapangan kerja paruh waktu, pemasaran produk pertanian lokal, hingga pengembangan homestay dan paket wisata. Namun perkembangan juga membawa tantangan, terutama menjaga keseimbangan antara kunjungan massal dan kelestarian lingkungan.
Pokdarwis dan pemerintah desa tengah merancang rencana jangka panjang: pengaturan jumlah pengunjung harian, sistem pengelolaan sampah terintegrasi, serta program pelatihan bagi pelaku UMKM agar produk yang dijual berkualitas dan ramah lingkungan.
Rekomendasi bagi Pengunjung
Untuk mendapatkan pengalaman terbaik dan membantu pelestarian tempat, pengunjung dianjurkan:
- Datang di hari kerja jika ingin suasana lebih tenang.
- Membawa perlengkapan ramah lingkungan (botol minum isi ulang, tas kain).
- Mengikuti arahan petugas dan tidak memetik flora atau mengganggu fauna lokal.
- Mendukung ekonomi lokal dengan membeli makanan dan oleh-oleh dari penjual desa.
Sumber: radarbangsa.co.id
