
Di tengah laju modernisasi yang semakin cepat, keberadaan seni tradisi sering kali berada di persimpangan antara lestari atau tergilas zaman. Namun, kondisi tersebut tidak sepenuhnya terjadi di Padukuhan Grogol, Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman. Di wilayah ini, denyut seni tradisi justru terus berdenyut kuat, terawat, dan berkembang. Sosok sentral di balik keberlanjutan tersebut adalah Sancoko, seorang maestro seni yang dikenal luas sebagai pengawal utama Desa Wisata Budaya Grogol Sleman.
Sejak tahun 1982, Sancoko secara konsisten mendedikasikan hidupnya untuk menjaga, mengembangkan, dan mewariskan seni tradisi kepada generasi muda. Melalui Sanggar Wijaya Kusuma, ia tidak hanya menciptakan ruang latihan seni, tetapi juga membangun fondasi karakter masyarakat berbasis nilai-nilai budaya lokal. Kiprahnya menjadi bukti bahwa seni tradisi bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan yang relevan lintas zaman.
Sanggar Wijaya Kusuma: Pusat Regenerasi Seni Tradisi Sleman
Sanggar Wijaya Kusuma yang didirikan oleh Sancoko lebih dari empat dekade lalu telah menjelma menjadi kawah candradimuka seni tradisi di Sleman Barat. Sanggar ini menjadi rumah bagi beragam kesenian rakyat yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Ragam Kesenian yang Dilestarikan
Beberapa bentuk seni tradisi yang secara aktif dikembangkan di Sanggar Wijaya Kusuma antara lain:
- Jathilan sebagai seni rakyat yang sarat makna spiritual dan kebersamaan
- Kesenian religius, yang memadukan dakwah dan budaya lokal
- Seni keprajuritan atau bergodo, yang merepresentasikan nilai disiplin, keberanian, dan sejarah perjuangan
- Karawitan dan gamelan, sebagai ruh musikal seni Jawa
Sanggar ini terbuka untuk semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Bagi Sancoko, keberlanjutan seni hanya bisa terjaga apabila regenerasi berjalan secara alami dan berkesinambungan.
Sancoko dan Filosofi Berkesenian sebagai Pembentuk Karakter
Sebagai lulusan Sarjana Seni Tari IKIP Yogyakarta, Sancoko memiliki pandangan mendalam mengenai makna seni dalam kehidupan sosial. Ia menilai bahwa seni tradisi bukan hanya persoalan teknik gerak atau tabuhan, melainkan sarana pendidikan karakter.
Menurutnya, setiap unsur seni mengandung nilai filosofis yang mengajarkan tentang:
- Etika dan tata krama
- Kebersamaan dan gotong royong
- Disiplin dan tanggung jawab
- Keseimbangan antara lahir dan batin
Pandangan ini membuat Sanggar Wijaya Kusuma tidak sekadar mencetak seniman, tetapi juga membentuk pribadi-pribadi yang memiliki ketahanan mental dan sosial dalam menghadapi perubahan zaman.
Peran Ganda sebagai Pendidik dan Relawan Budaya
Selain aktif sebagai maestro seni, Sancoko juga dikenal sebagai guru seni di SMP Negeri 1 Godean. Perannya di dunia pendidikan memperkuat posisinya sebagai jembatan antara institusi formal dan masyarakat adat.
Kontribusi Nyata di Berbagai Lini Budaya
Tak berhenti di ruang kelas dan sanggar, kontribusi Sancoko meluas ke berbagai sektor, antara lain:
- Pembina Paguyuban Dalang Sleman Barat
- Narasumber dalam sarasehan budaya dan pelatihan seni
- Penyusun naskah pertunjukan rakyat
- Perajin gamelan, yang menjaga kualitas instrumen tradisi
Ia dikenal sebagai relawan budaya yang selalu siap turun langsung ke masyarakat. Pendekatan ini membuat seni tradisi tetap membumi dan tidak terjebak dalam eksklusivitas.
Seni Tradisi dan Desa Wisata Budaya Grogol
Keberadaan Sanggar Wijaya Kusuma menjadi salah satu pilar penting dalam pengembangan Desa Wisata Budaya Grogol Sleman. Seni tradisi menjadi daya tarik utama yang menguatkan identitas desa sekaligus mendukung sektor pariwisata berbasis budaya.
Melalui pertunjukan rutin, latihan terbuka, hingga keterlibatan wisatawan dalam aktivitas seni, Desa Wisata Budaya Grogol menawarkan pengalaman autentik yang tidak sekadar melihat, tetapi juga merasakan dan memahami nilai budaya Jawa.
Sinergi antara seni, masyarakat, dan pariwisata ini menjadi contoh konkret bagaimana desa wisata berbasis budaya mampu bertahan dan berkembang di era modern.
Prestasi Nasional dan Kerendahan Hati Seorang Maestro
Dedikasi panjang Sancoko telah mengantarkannya meraih berbagai pengakuan, salah satunya Penghargaan Pemeran Pria Terbaik Pertunjukan Rakyat di Lombok. Namun, bagi pria yang pernah mengawali kariernya sebagai pelawak di Teater Cantrik ini, penghargaan bukanlah tujuan utama.
Baginya, keberhasilan sejati adalah ketika seni tradisi:
- Tetap relevan dengan zaman
- Mampu menghidupi para pelakunya secara layak
- Tidak kehilangan nilai luhur dan identitas budaya
Prinsip ini menjadi pegangan dalam setiap aktivitas keseniannya, baik sebagai pendidik, seniman, maupun penggerak desa wisata.
Harapan Besar untuk Masa Depan Budaya Sleman
Memasuki usia 70 tahun, semangat Sancoko untuk menjaga budaya tidak pernah surut. Ia berharap Sleman benar-benar menjadi pusat pelestarian budaya yang mampu menyinergikan dunia pendidikan, seni, dan pariwisata secara berkelanjutan.
Pesan utamanya kepada generasi muda adalah pentingnya memegang teguh prinsip bibit, bobot, dan bebet sebagai fondasi identitas dan jati diri bangsa.
Menurutnya, profesionalisme dan komersialisasi dalam seni boleh dilakukan selama tidak mengorbankan akar budaya. Adaptasi adalah keharusan, tetapi nilai luhur harus tetap menjadi panglima.
Desa Wisata Budaya sebagai Ruang Belajar dan Pengalaman
Keberadaan tokoh seperti Sancoko membuktikan bahwa desa wisata budaya bukan hanya destinasi rekreasi, tetapi juga ruang belajar lintas generasi. Wisatawan tidak hanya menikmati pertunjukan, tetapi juga memahami proses, nilai, dan filosofi di balik seni tradisi.
Bagi Anda yang ingin merasakan pengalaman wisata yang berbeda lebih bermakna, edukatif, dan membumi desa wisata berbasis budaya adalah pilihan tepat.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
- Siapa Sancoko dan apa perannya dalam seni tradisi Sleman?
Sancoko adalah maestro seni tradisi sekaligus pendiri Sanggar Wijaya Kusuma yang berperan besar dalam pelestarian seni dan pengembangan Desa Wisata Budaya Grogol Sleman. - Apa saja kesenian yang dikembangkan di Sanggar Wijaya Kusuma?
Kesenian yang dikembangkan meliputi jathilan, seni religius, seni keprajuritan (bergodo), karawitan, dan gamelan. - Apa hubungan seni tradisi dengan desa wisata?
Seni tradisi menjadi daya tarik utama desa wisata budaya karena menawarkan pengalaman autentik, edukatif, dan bernilai kearifan lokal bagi wisatawan. - Mengapa prinsip bibit, bobot, dan bebet penting?
Prinsip ini mencerminkan kearifan lokal Jawa yang menekankan kualitas pribadi, nilai moral, dan identitas budaya sebagai penuntun kehidupan bermasyarakat. - Bagaimana wisatawan bisa menikmati pengalaman budaya secara langsung?
Wisatawan dapat mengunjungi desa wisata budaya, menyaksikan pertunjukan seni, mengikuti aktivitas sanggar, dan berinteraksi langsung dengan pelaku budaya lokal.
Ringkasan Akhir
Sancoko adalah contoh nyata sosok penggerak budaya yang konsisten menjaga seni tradisi di tengah modernisasi. Melalui Sanggar Wijaya Kusuma dan keterlibatannya dalam Desa Wisata Budaya Grogol Sleman, ia membuktikan bahwa seni tradisi dapat tetap hidup, relevan, dan memberi manfaat ekonomi tanpa kehilangan nilai luhur.
Sinergi antara seni, pendidikan, dan pariwisata menjadi kunci keberlanjutan budaya lokal. Dengan dukungan masyarakat dan minat wisatawan, desa wisata budaya tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga menciptakan masa depan yang berakar kuat pada identitas bangsa.
Untuk pengalaman wisata asyik dan inspiratif, kunjungi desawisatakarangmangu.com
