
Desa Wisata Hijau Bilebante di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), menjadi sorotan nasional setelah meraih penghargaan Desa Wisata Terbaik 2025 dalam ajang Wonderful Indonesia Award (WIA) 2025 yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata. Prestasi ini bukan sekadar gelar, melainkan bukti nyata keberhasilan desa dalam mengelola potensi lokal, melestarikan lingkungan, dan menghadirkan pengalaman wisata berbasis kearifan lokal yang berkelanjutan.
Berjarak sekitar 15,6 kilometer dari Kota Mataram, Desa Wisata Bilebante kini menjelma sebagai tujuan favorit wisatawan domestik maupun mancanegara, terutama untuk liburan akhir pekan. Hamparan sawah hijau, suasana pedesaan yang sejuk, serta ragam aktivitas budaya dan alam menjadi daya tarik utama desa wisata ini.
Pesona Alam dan Suasana Pedesaan Desa Wisata Bilebante
Desa Wisata Hijau Bilebante menawarkan lanskap khas pedesaan Lombok yang masih alami. Hamparan sawah hijau membentang luas, dikelilingi perkampungan warga yang ramah dan udara yang segar. Suasana inilah yang membuat wisatawan merasa “pulang ke desa” dan lepas dari hiruk-pikuk perkotaan.
Keunikan Bilebante terletak pada kemampuannya memadukan keindahan alam dengan aktivitas keseharian masyarakat. Wisata di sini tidak dibuat-buat, melainkan hadir secara alami sebagai bagian dari kehidupan warga desa.
Ragam Aktivitas Wisata Unggulan di Desa Wisata Hijau Bilebante
Sebagai salah satu contoh terbaik desa wisata di Indonesia, Desa Wisata Bilebante menawarkan beragam aktivitas yang bisa dinikmati wisatawan dari berbagai kalangan.
Wisata Alam dan Petualangan
Pengunjung dapat menikmati berbagai aktivitas luar ruang, seperti:
- Bersepeda menyusuri persawahan dengan pemandangan hijau yang menenangkan
- ATV keliling desa, cocok bagi wisatawan yang menyukai tantangan ringan
- Menjelajah sungai larangan, kawasan sungai yang dijaga kelestariannya oleh warga
Aktivitas ini dirancang untuk memberikan pengalaman menyatu dengan alam tanpa merusak lingkungan.
Wisata Budaya dan Edukasi
Desa Wisata Hijau Bilebante juga kaya akan nilai budaya. Wisatawan dapat:
- Mengunjungi Pura Lingsar Kelud, pura tertua di Lombok Tengah
- Belajar menari tradisional Lombok
- Mengikuti kelas memasak kuliner khas Lombok
- Mengunjungi kebun herbal dan belajar tentang tanaman obat tradisional
Semua kegiatan ini menjadi bagian dari wisata edukasi yang memperkenalkan kearifan lokal kepada pengunjung.
Relaksasi dan Kuliner Khas Desa
Untuk wisatawan yang ingin bersantai, tersedia:
- Massage dan spa tradisional
- Menikmati kuliner khas seperti Ayam Merangkat, hidangan tradisional Lombok yang kaya rempah
Kuliner di Desa Wisata Bilebante disajikan langsung oleh warga, sehingga cita rasa dan keasliannya tetap terjaga.
Paket Wisata Desa Wisata Hijau Bilebante
Semua aktivitas wisata di Desa Wisata Bilebante dikemas dalam berbagai paket wisata menarik. Harga paket bervariasi, mulai dari:
- Rp 518.000 untuk paket full day
- Hingga Rp 1,8 juta untuk paket 4 hari 3 malam
Paket ini dirancang fleksibel, sehingga cocok untuk wisata keluarga, rombongan, hingga wisatawan mancanegara.
Paket Wisata Betemoe, Favorit Wisatawan
Salah satu paket yang paling diminati adalah Paket Betemoe. Dalam bahasa lokal, Betemoe berarti bertamu atau bersilaturahmi. Melalui paket ini, wisatawan diajak merasakan langsung kehidupan masyarakat Desa Bilebante, antara lain:
- Menikmati hidangan tradisional
- Menggunakan pakaian adat Lombok lengkap dengan sapuk (ikat kepala)
- Berjalan kaki malam hari menggunakan obor
- Mendengarkan pembacaan lontar
- Belajar menari tradisional Lombok
Pengalaman ini memberikan kesan mendalam karena wisatawan tidak hanya melihat, tetapi juga ikut terlibat dalam budaya lokal.
Kearifan Lokal sebagai Kekuatan Utama Desa Wisata Bilebante
Direktur Desa Wisata Hijau Bilebante, Pahrul Azim, menegaskan bahwa kekuatan utama desa wisata ini terletak pada aktivitas keseharian masyarakat yang diangkat menjadi daya tarik wisata.
Menurutnya, pariwisata desa bukan sekadar mendatangkan tamu, tetapi menjaga agar karakter dan jati diri desa tetap utuh. Wisatawan yang datang dianggap sebagai bonus dari upaya pelestarian budaya dan lingkungan.
Puncak kunjungan wisatawan biasanya terjadi pada Januari hingga Februari. Selain wisatawan mancanegara, Desa Wisata Bilebante juga banyak dikunjungi wisatawan dari kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Ke depan, pengelola juga menyiapkan paket khusus untuk tamu kapal pesiar yang dijadwalkan mulai Maret 2026.
Transformasi Bekas Tambang Menjadi Desa Wisata Berkelanjutan
Salah satu hal paling inspiratif dari Desa Wisata Hijau Bilebante adalah sejarah transformasinya. Dahulu, kawasan ini merupakan desa tambang pasir (galian C). Aktivitas penambangan bahkan membuat beberapa area lebih tinggi dari jalan utama.
Puncak aktivitas tambang terjadi pada tahun 1990–2000. Namun, kesadaran akan kerusakan lingkungan mendorong pemangku desa untuk membuat awig-awig atau aturan desa pada tahun 2006, yang mengatur wilayah boleh dan tidak boleh ditambang.
Pada tahun 2014, muncul gagasan besar untuk menjadikan Bilebante sebagai desa wisata hijau. Seluruh destinasi wisata yang ada saat ini, seperti D’Gonggress, Lembah Gardena, dan Pasar Pancingan, merupakan bekas tambang yang direklamasi dan ditata ulang.
Transformasi ini membuktikan bahwa pengelolaan lingkungan yang tepat dapat mengubah kawasan rusak menjadi destinasi wisata yang bernilai ekonomi tinggi.
Dampak Positif Desa Wisata bagi Masyarakat Bilebante
Sejak berkembang menjadi desa wisata, semakin banyak warga Desa Bilebante yang beralih bekerja di sektor pariwisata. Mulai dari pemandu wisata, pengelola homestay, juru masak, seniman, hingga pelaku UMKM lokal.
Desa wisata tidak hanya meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga terhadap desa dan budaya sendiri. Harapan ke depan, tidak ada lagi aktivitas penambangan di Bilebante agar kelestarian lingkungan tetap terjaga.
Desa Wisata Hijau Bilebante sebagai Inspirasi Nasional
Keberhasilan Desa Wisata Hijau Bilebante menjadi Desa Wisata Terbaik Nasional 2025 menjadikannya contoh nyata pengembangan desa wisata berbasis lingkungan dan kearifan lokal. Desa ini menunjukkan bahwa pariwisata berkelanjutan dapat berjalan seiring dengan pelestarian alam dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Bagi daerah lain di Indonesia, Bilebante dapat menjadi inspirasi dalam mengelola potensi desa secara kreatif dan bertanggung jawab.
FAQ Seputar Desa Wisata Hijau Bilebante
- Apa itu Desa Wisata Hijau Bilebante?
Desa Wisata Hijau Bilebante adalah desa wisata di Lombok Tengah, NTB, yang mengembangkan pariwisata berbasis alam, budaya, dan kearifan lokal dengan konsep berkelanjutan. - Mengapa Desa Wisata Bilebante mendapat penghargaan Desa Wisata Terbaik 2025?
Karena berhasil mengelola potensi desa, mereklamasi bekas tambang menjadi destinasi wisata, serta melibatkan masyarakat secara aktif dalam pariwisata berkelanjutan. - Aktivitas apa saja yang bisa dilakukan di Desa Wisata Bilebante?
Wisatawan dapat bersepeda, ATV, wisata budaya, belajar menari, kelas memasak, spa tradisional, hingga menikmati kuliner khas Lombok. - Berapa harga paket wisata di Desa Wisata Bilebante?
Harga paket wisata mulai dari sekitar Rp 518.000 untuk paket sehari hingga Rp 1,8 juta untuk paket 4 hari 3 malam. - Apa itu Paket Betemoe?
Paket Betemoe adalah paket wisata unggulan yang mengajak wisatawan merasakan langsung budaya dan kehidupan masyarakat Desa Bilebante.
Ringkasan Akhir
Desa Wisata Hijau Bilebante Lombok Tengah merupakan contoh sukses transformasi desa dari kawasan tambang menjadi destinasi wisata unggulan nasional. Dengan mengedepankan kearifan lokal, pelestarian lingkungan, dan partisipasi masyarakat, desa ini mampu meraih predikat Desa Wisata Terbaik 2025.
Jika Anda ingin merasakan pengalaman wisata desa yang asyik, edukatif, dan berkelanjutan, tidak hanya di Lombok, Anda juga bisa menjelajahi referensi dan inspirasi desa wisata lainnya.
Untuk pengalaman wisata asyik, kunjungi: desawisatakarangmangu.com
