CSR IMIP Resmikan Desa Wisata Mangrove Padabaho Morowali, Dorong Ekonomi Pesisir dan Edukasi Lingkungan

Morowali, Sulawesi Tengah – Pengembangan pariwisata berbasis lingkungan di kawasan pesisir Morowali resmi memasuki babak baru. Desa Wisata Mangrove Padabaho, yang berada di Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, kini mulai beroperasi sebagai destinasi rekreasi sekaligus edukasi lingkungan setelah dilakukan peresmian dan serah terima pengelolaan pada Sabtu (31/01/2026).

Program ini merupakan bagian dari CSR PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) bersama tenant-tenant di kawasan industri. Fokus utamanya bukan hanya menciptakan tempat wisata baru, tetapi juga memperkuat perlindungan ekosistem pesisir melalui restorasi dan pelestarian mangrove yang selama ini menjadi benteng alami dari abrasi dan kerusakan pantai.

Dengan fasilitas yang terus ditata dan melibatkan partisipasi masyarakat, Desa Wisata Mangrove Padabaho diharapkan mampu menjadi destinasi unggulan Morowali serta menjadi contoh pengembangan desa wisata yang seimbang antara ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Desa Wisata Mangrove Padabaho, Langkah Nyata Pariwisata Berbasis Lingkungan di Morowali

Kehadiran Desa Wisata Mangrove Padabaho membawa semangat baru dalam pengembangan sektor pariwisata daerah, khususnya di kawasan Bahodopi yang selama ini dikenal sebagai wilayah dengan aktivitas industri dan pertumbuhan penduduk yang cepat.

Destinasi ini dirancang untuk memanfaatkan potensi alam berupa hutan mangrove yang menjadi habitat beragam flora dan fauna pesisir. Mangrove tidak hanya penting secara ekologis, tetapi juga menyimpan nilai edukasi yang besar—mulai dari pengenalan fungsi mangrove sebagai pelindung pantai hingga peranannya dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut.

Dengan konsep wisata alam dan wisata edukasi, Desa Wisata Mangrove Padabaho diarahkan menjadi ruang yang ramah untuk keluarga, masyarakat lokal, wisatawan, serta pekerja di Bahodopi yang membutuhkan tempat rehat dengan suasana sejuk dan alami.

Program CSR IMIP Jadi Penggerak Pembangunan Sarana Wisata Desa Padabaho

Program pengembangan destinasi ini dilakukan melalui Program CSR Pembangunan Sarana Wisata Desa Padabaho. Menurut Supervisor CSR Department PT IMIP, Irfan Ardiansyah, pembangunan tidak dilakukan secara instan, melainkan bertahap sejak tahun 2023.

Ia menjelaskan bahwa ide pengembangan wisata ini berangkat dari kebutuhan masyarakat Desa Padabaho sendiri. Seiring bertambahnya jumlah penduduk serta meningkatnya aktivitas pekerja di wilayah Bahodopi, muncul kebutuhan akan ruang rekreasi yang sehat, terbuka, dan bisa dinikmati bersama.

“Pengembangan ini bukan proses singkat. Ini berangkat dari gagasan masyarakat Desa Padabaho sendiri yang melihat kebutuhan ruang wisata seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas pekerja di Bahodopi,” jelas Irfan dalam kegiatan peresmian.

Yang menarik, pembangunan dilakukan melalui skema pendanaan bertahap, termasuk melalui dana swakelola yang dialokasikan IMIP bagi desa-desa di Kecamatan Bahodopi. Artinya, pengembangan desa wisata ini tidak hanya membangun fasilitas, tetapi juga membangun sistem kolaborasi dan kemandirian desa.

Fasilitas Desa Wisata Mangrove Padabaho yang Disiapkan untuk Pengunjung

Sebagai destinasi yang dirancang ramah pengunjung, Desa Wisata Mangrove Padabaho telah dilengkapi sejumlah sarana pendukung yang dapat digunakan untuk berbagai aktivitas wisata, kegiatan komunitas, hingga pertemuan.

Berikut fasilitas utama yang dibangun melalui program CSR IMIP:

  • Ruang pertemuan berkapasitas 100–150 orang, cocok untuk rapat, pelatihan, gathering, atau kegiatan desa
  • Gazebo untuk tempat istirahat, berkumpul, atau menikmati suasana alam
  • Jalur pejalan kaki yang ditata menarik dengan warna cerah dan ramah pengunjung

Keberadaan fasilitas ini menjadikan Desa Wisata Mangrove Padabaho bukan hanya tempat “jalan-jalan”, tetapi juga berpotensi menjadi lokasi event, edukasi, hingga pusat aktivitas ekonomi masyarakat.

Dukungan Pemda Morowali: Desa Wisata Dorong UMKM dan Partisipasi Warga

Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Morowali, Armin Mohammad Ali, memberikan apresiasi terhadap kontribusi IMIP dan tenant dalam pengembangan desa wisata ini.

Menurutnya, dana CSR yang disalurkan untuk pembangunan desa wisata dapat menjadi instrumen strategis untuk memperkuat ekonomi desa, terutama melalui:

  • pertumbuhan UMKM lokal
  • keterlibatan warga dalam aktivitas wisata
  • peningkatan daya tarik kawasan bagi wisatawan

“Dana CSR ini menjadi salah satu ide penguatan ekonomi desa. Kehadiran Desa Wisata Mangrove Padabaho dapat mendorong tumbuhnya usaha mikro, kecil, dan menengah, serta membuka ruang partisipasi masyarakat melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis),” ujar Armin.

Pernyataan ini mempertegas bahwa pengembangan desa wisata bukan sekadar proyek fisik, melainkan bagian dari ekosistem ekonomi lokal. Jika dikelola konsisten, destinasi seperti ini dapat memicu lahirnya usaha baru—mulai dari kuliner, suvenir, pemandu wisata, hingga jasa transportasi lokal.

Peran Pokdarwis dan Generasi Muda Jadi Kunci Keberlanjutan Desa Wisata

Dalam upaya memastikan desa wisata ini dikelola secara berkelanjutan, Pemerintah Desa Padabaho telah membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) sejak tahun 2025.

Pelaksana Tugas Harian Kepala Desa sekaligus Sekretaris Desa Padabaho, Ambotuo Lanaco, menegaskan bahwa kehadiran Desa Wisata Mangrove Padabaho memberi ruang baru bagi masyarakat.

Ia menyampaikan bahwa sebelum pengembangan wisata, warga belum memiliki ruang rekreasi yang layak. Namun setelah kawasan mulai ditata, bahkan sebelum diresmikan, pengunjung sudah berdatangan untuk menikmati udara segar dan suasana alam.

“Sebelum pengembangan wisata ini, masyarakat tidak memiliki ruang rekreasi. Sekarang, bahkan sebelum diresmikan, pengunjung sudah berdatangan untuk menikmati suasana dan udara sejuk di sini,” ujarnya.

Keterlibatan generasi muda melalui Pokdarwis juga penting agar desa wisata tidak hanya ramai di awal, tetapi terus berkembang sebagai warisan jangka panjang bagi Desa Padabaho.

Sinergi Lingkungan dan Ekonomi: Mangrove sebagai Benteng Abrasi Sekaligus Daya Tarik Wisata

Salah satu nilai utama Desa Wisata Mangrove Padabaho adalah konsep yang menyeimbangkan ekonomi dan pelestarian lingkungan.

Mangrove selama ini dikenal sebagai benteng alami yang mampu:

  • menahan gelombang dan mencegah abrasi
  • melindungi garis pantai dari kerusakan
  • menjadi habitat biota pesisir
  • membantu menyerap karbon dan menjaga kualitas lingkungan

Karena itu, pengembangan destinasi wisata ini disertai dengan penataan lingkungan seperti penanaman dan restorasi mangrove.

IMIP menekankan bahwa peresmian ini bukan akhir dari program, tetapi justru awal dari sinergi jangka panjang. Komitmen tersebut menjadi penting karena desa wisata membutuhkan pengelolaan berkelanjutan: kebersihan, keamanan, promosi, serta peningkatan fasilitas dari waktu ke waktu.

Pentingnya Promosi Berkelanjutan Agar Desa Wisata Makin Dikenal

Kepala Seksi Ekonomi Kecamatan Bahodopi, Dahran Manan, menyambut baik dibukanya Desa Wisata Mangrove Padabaho. Ia menilai kawasan ini berpotensi menjadi tempat rekreasi sehat bagi masyarakat dan pekerja di Bahodopi.

Namun, ia juga mengingatkan pentingnya pengawasan dan sinergi agar pengembangan wisata tidak menimbulkan dampak negatif bagi warga.

“Desa Wisata Mangrove Padabaho bisa menjadi tempat rekreasi yang baik, tapi harus diikuti dengan penataan dan promosi berkelanjutan agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Promosi menjadi faktor krusial karena destinasi baru perlu dikenal melalui:

  • media lokal dan nasional
  • konten digital pariwisata (foto, video, reels, short video)
  • kolaborasi dengan komunitas
  • agenda event rutin agar ada alasan pengunjung datang kembali

Dengan promosi yang tepat, Desa Wisata Mangrove Padabaho dapat menjadi magnet wisata baru di Morowali sekaligus memperkuat citra pariwisata Sulawesi Tengah.

Serah Terima Pengelolaan Resmi: Desa Siap Mandiri Kelola Destinasi

Momen peresmian pada Sabtu (31/01/2026) juga ditandai dengan serah terima pengelolaan Desa Wisata Mangrove Padabaho dari perwakilan CSR PT IMIP kepada Pemerintah Desa Padabaho.

Langkah ini penting karena menunjukkan arah pengembangan yang sehat: CSR hadir sebagai pemantik pembangunan, sementara pengelolaan jangka panjang dipercayakan kepada desa agar manfaat ekonomi dan sosialnya kembali ke masyarakat.

Dengan pengelolaan berbasis desa dan Pokdarwis, destinasi ini berpeluang menjadi:

  • pusat aktivitas wisata berbasis warga
  • sumber PADes (Pendapatan Asli Desa)
  • ruang publik yang bermanfaat bagi semua kalangan

Desa Wisata Mangrove Padabaho sebagai Contoh Desa Wisata Berkelanjutan

Jika dikelola konsisten, Desa Wisata Mangrove Padabaho dapat menjadi contoh desa wisata yang mengedepankan prinsip keberlanjutan.

Karakteristik yang membuatnya potensial menjadi model:

  1. Berbasis potensi lokal (mangrove sebagai aset utama)
  2. Didukung infrastruktur yang memadai
  3. Didorong CSR dan sinergi multi pihak
  4. Melibatkan masyarakat melalui Pokdarwis
  5. Memiliki nilai edukasi lingkungan
  6. Berorientasi ekonomi desa melalui UMKM

Dengan pendekatan ini, pengembangan desa wisata tidak hanya menghasilkan “tempat wisata”, tetapi membentuk sistem ekonomi lokal yang lebih tahan terhadap perubahan.

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

  • Desa Wisata Mangrove Padabaho berada di mana?
    Desa Wisata Mangrove Padabaho berada di Desa Padabaho, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.
  • Apa tujuan utama pembangunan desa wisata ini?
    Tujuan utamanya adalah mengembangkan wisata alam berbasis lingkungan, memperkuat ekonomi masyarakat pesisir, serta menjaga ekosistem mangrove.
  • Siapa yang membangun fasilitas desa wisata mangrove Padabaho?
    Pembangunan dilakukan melalui program CSR PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) bersama tenant-tenant kawasan industri.
  • Fasilitas apa saja yang tersedia di Desa Wisata Mangrove Padabaho?
    Fasilitas utama meliputi ruang pertemuan 100–150 orang, gazebo, serta jalur pejalan kaki berwarna-warni.
  • Siapa yang mengelola desa wisata ini setelah diresmikan?
    Pengelolaan diserahkan kepada Pemerintah Desa Padabaho, dengan dukungan masyarakat dan Pokdarwis yang telah dibentuk sejak 2025.
  • Apa manfaat desa wisata ini bagi warga?
    Manfaatnya meliputi ruang rekreasi warga, peluang usaha UMKM, lapangan kerja baru, serta peningkatan ekonomi desa dari sektor wisata.

Ringkasan Akhir

Desa Wisata Mangrove Padabaho di Morowali resmi dibuka sebagai destinasi wisata alam dan edukasi lingkungan, hasil pengembangan melalui Program CSR IMIP sejak 2023. Fasilitas yang dibangun seperti ruang pertemuan, gazebo, dan jalur pejalan kaki memperkuat daya tarik kawasan, sementara restorasi mangrove menjadi fondasi utama agar wisata berjalan seiring pelestarian lingkungan. Dengan dukungan Pemda, keterlibatan Pokdarwis, dan promosi digital berkelanjutan, destinasi ini berpeluang menjadi destinasi unggulan Morowali serta contoh desa wisata berkelanjutan di Sulawesi Tengah.

Untuk pengalaman wisata yang asyik dan inspiratif, yuk kunjungi juga: desawisatakarangmangu.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top