Semarak Bazar Ramadan di Desa Wisata Bilebante Dorong 40 UMKM Naik Kelas dan Perkuat Ekonomi Lokal

Semangat pemberdayaan ekonomi desa kembali terasa di Desa Wisata Bilebante, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Sebanyak 40 pelaku UMKM meramaikan Semarak Bazar Ramadan yang digelar pada Minggu (15/2/2026). Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang jual beli musiman, tetapi juga menjadi strategi konkret dalam memperkuat ekosistem usaha desa wisata secara berkelanjutan.

Bazar Ramadan ini menjadi bukti bahwa desa wisata mampu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis komunitas. Dengan dukungan pelatihan, pendampingan, hingga inovasi sistem transaksi, Desa Wisata Bilebante menghadirkan model pemberdayaan UMKM yang inspiratif dan berpotensi direplikasi di berbagai wilayah.

Bazar Ramadan Desa Wisata Bilebante: Momentum Ekonomi dan Pemberdayaan

Semarak Bazar Ramadan di Desa Wisata Bilebante diinisiasi oleh Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC) bersama Inotek dan mitra lokal. Kegiatan ini berlokasi di lahan pasar tematik milik pemerintah desa yang terletak strategis di tepi jalan raya, sehingga mudah diakses oleh masyarakat sekitar maupun wisatawan.

Keberadaan bazar ini memiliki dua tujuan utama. Pertama, mendorong perputaran ekonomi desa selama bulan Ramadan. Kedua, memperkuat kapasitas dan daya saing UMKM lokal agar tidak hanya bergantung pada kunjungan wisata musiman.

Sebagai desa wisata unggulan di Lombok Tengah, Desa Wisata Bilebante memang dikenal aktif mengembangkan potensi ekonomi kreatif berbasis komunitas. Kegiatan bazar ini menjadi bagian dari strategi besar pengembangan desa wisata yang inklusif dan berkelanjutan.

Ragam Kuliner Khas Suku Sasak Jadi Daya Tarik Utama

Salah satu magnet utama Semarak Bazar Ramadan adalah kekayaan kuliner khas Suku Sasak yang ditawarkan. Pengunjung dapat menemukan beragam hidangan tradisional yang jarang ditemui di tempat lain, seperti:

  • Jamu mule gati
  • Bakso rumput laut
  • Sate jamur
  • Nasi ebatan
  • Sate pusut
  • Ayam rangkat khas Bilebante

Keberagaman menu ini tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga memperkuat identitas budaya lokal. Inilah kekuatan desa wisata: memadukan ekonomi, budaya, dan pengalaman autentik dalam satu ruang interaksi.

Dengan menghadirkan kuliner tradisional sebagai daya tarik utama, Desa Wisata Bilebante menunjukkan bahwa potensi lokal dapat menjadi produk bernilai ekonomi tinggi jika dikelola dengan tepat.

Sistem Transaksi Unik: Kepeng, Koin Kayu Penggerak Ekosistem

Keunikan lain dari bazar ini adalah penggunaan sistem transaksi berbasis koin kayu bernama kepeng. Setiap pengunjung wajib menukarkan uang tunai dengan kepeng sebelum melakukan pembelian.

Skema ini memiliki beberapa manfaat strategis:

  1. Memudahkan panitia memantau omzet UMKM secara akurat.
  2. Meningkatkan transparansi transaksi.
  3. Memberikan pengalaman belanja yang unik dan edukatif.
  4. Membangun kepercayaan (trust) dalam sistem pembelanjaan semi-cashless.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB, Ahmad Nur Aulia, mengapresiasi inovasi tersebut. Ia menilai sistem ini menjadi pembelajaran penting dalam membangun ekosistem UMKM yang terintegrasi dan profesional.

Model ini juga memperlihatkan bagaimana desa wisata dapat berinovasi dalam tata kelola ekonomi tanpa meninggalkan sentuhan kearifan lokal.

Dukungan Dekranasda NTB untuk UMKM Lokal

Ketua Dekranasda NTB, Shinta Agathia Soedjoko, mengajak masyarakat untuk memanfaatkan momentum Ramadan dengan mendukung pelaku UMKM lokal.

Menurutnya, bazar seperti ini tidak hanya membantu masyarakat memenuhi kebutuhan berbuka puasa, tetapi juga memberikan dampak langsung terhadap peningkatan pendapatan pelaku usaha desa.

Dukungan pemerintah daerah melalui Dekranasda memperlihatkan sinergi antara sektor publik dan komunitas dalam membangun ekonomi desa yang tangguh.

Strategi Pemberdayaan UMKM Berkelanjutan di Desa Wisata

Penanggung jawab kegiatan, Triyanto, menjelaskan bahwa bazar ini lahir dari potensi besar Desa Bilebante sebagai desa wisata. Tujuannya jelas: memastikan UMKM lokal naik kelas melalui akses pasar dan pendampingan yang berkelanjutan.

Salah satu program unggulan yang mendukung hal ini adalah Collaborator Hub oleh SETC melalui Koperasi Wanita Putri Rinjani yang dipimpin Hj. Zaenab. Program ini mendampingi sekitar 40 UMKM di Desa Bilebante dan sekitarnya.

Sejak 2023, para pelaku usaha telah mendapatkan pelatihan teknis dan digital, seperti:

  • Fotografi produk
  • Menjahit dan pembuatan pola
  • Digital marketing
  • Standarisasi layanan jasa (termasuk pelatihan terapis urut sesuai standar pariwisata)

Pendekatan ini menunjukkan bahwa pengembangan desa wisata tidak cukup hanya membangun destinasi, tetapi juga harus membangun kapasitas sumber daya manusianya.

Optimalisasi Aset Desa untuk Pusat Ekonomi Produktif

Bazar Ramadan juga berdampak pada optimalisasi aset desa. Lahan pasar tematik yang sebelumnya kurang produktif kini hidup kembali sebagai pusat kegiatan ekonomi.

Transformasi ruang ini membuktikan bahwa desa memiliki aset besar yang dapat dimanfaatkan secara kreatif. Dengan manajemen yang tepat, ruang publik dapat menjadi pusat interaksi ekonomi, sosial, dan budaya.

Model ini penting sebagai contoh pemberdayaan berbasis tata kelola desa yang efektif.

Desa Wisata sebagai Motor Ekonomi Daerah

Desa wisata kini tidak hanya dipandang sebagai destinasi rekreasi, tetapi juga sebagai motor penggerak ekonomi daerah. Di NTB, sinergi antara pelaku usaha, pemerintah, dan lembaga pendamping menjadi kunci dalam membangun ekosistem usaha yang sehat.

Semarak Bazar Ramadan di Desa Wisata Bilebante menjadi studi kasus nyata bagaimana:

  • Pelatihan berkelanjutan meningkatkan kualitas produk.
  • Inovasi transaksi memperkuat sistem keuangan lokal.
  • Dukungan pemerintah meningkatkan legitimasi dan kepercayaan publik.
  • Pasar alternatif mengurangi ketergantungan pada musim wisata.

Pola ini diharapkan dapat direplikasi di berbagai desa wisata lain di NTB.

FAQ Seputar Semarak Bazar Ramadan Desa Wisata Bilebante

  • Apa tujuan utama Semarak Bazar Ramadan di Desa Wisata Bilebante?
    Tujuannya adalah mendorong perputaran ekonomi desa dan memperkuat kapasitas UMKM lokal melalui akses pasar dan sistem pemberdayaan berkelanjutan.
  • Berapa jumlah UMKM yang terlibat?
    Sebanyak 40 UMKM binaan turut serta dalam bazar ini.
  • Apa keunikan sistem transaksi di bazar ini?
    Pengunjung menggunakan koin kayu bernama kepeng sebagai alat transaksi setelah menukarkan uang tunai.
  • Siapa saja pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan?
    Kegiatan ini diinisiasi oleh Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC), Inotek, serta mitra lokal dengan dukungan pemerintah daerah NTB.
  • Apa dampak jangka panjang kegiatan ini?
    Dampaknya meliputi peningkatan kapasitas UMKM, optimalisasi aset desa, penguatan ekosistem ekonomi lokal, dan pengurangan ketergantungan pada wisata musiman.

Mengapa Model Ini Layak Direplikasi?

Model pemberdayaan di Desa Wisata Bilebante menekankan tiga hal penting:

  1. Pendampingan berkelanjutan
  2. Inovasi sistem ekonomi
  3. Kolaborasi multipihak

Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan omzet jangka pendek, tetapi juga membangun fondasi ekonomi desa yang kokoh.

Jika direplikasi secara konsisten, pola ini dapat memperluas pergerakan ekonomi hingga tingkat akar rumput di seluruh NTB.

Ingin Pengalaman Wisata Desa yang Tak Kalah Seru?

Jika Anda tertarik merasakan pengalaman wisata desa yang asyik, autentik, dan penuh aktivitas menarik, kunjungi desawisatakarangmangu.com. Temukan berbagai program wisata edukatif, budaya, dan kuliner yang siap memberikan pengalaman berbeda bersama masyarakat lokal.

Dukung desa wisata, dukung UMKM, dan jadilah bagian dari pergerakan ekonomi berbasis komunitas.

Ringkasan Akhir

Semarak Bazar Ramadan di Desa Wisata Bilebante menjadi contoh nyata bagaimana desa wisata mampu bertransformasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi lokal. Dengan melibatkan 40 UMKM, menghadirkan kuliner khas Suku Sasak, serta menerapkan sistem transaksi inovatif berbasis kepeng, kegiatan ini tidak hanya meningkatkan omzet usaha, tetapi juga memperkuat tata kelola ekonomi desa.

Didukung oleh SETC, Inotek, pemerintah daerah NTB, dan berbagai mitra lokal, model pemberdayaan ini menunjukkan bahwa pengembangan desa wisata harus menyentuh aspek kapasitas SDM, akses pasar, serta inovasi sistem.

Ke depan, pola seperti ini berpotensi menjadi blueprint pemberdayaan UMKM desa wisata di berbagai daerah Indonesia. Dengan sinergi yang kuat dan pendampingan berkelanjutan, desa wisata dapat menjadi fondasi ekonomi yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.

Sumber: https://www.asatunews.co.id/bazar-ramadan-dongkrak-ekonomi-desa

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top