Desa Wisata Ketapanrame: Model Pemberdayaan Ekonomi Desa Berbasis Pariwisata yang Menginspirasi

Desa Wisata Ketapanrame menjadi salah satu contoh paling kuat bagaimana desa dapat tumbuh mapan melalui pengelolaan pariwisata yang terstruktur, kolaboratif, dan berbasis pemberdayaan masyarakat. Desa ini tidak hanya dikenal karena panorama alamnya yang sejuk, tetapi juga karena keberhasilannya membangun ekosistem ekonomi lokal yang inklusif.

Terletak di Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, desa ini berhasil meraih predikat runner-up program desa unggulan nasional pada 2021. Sejak saat itu, Desa Ketapanrame berkembang menjadi destinasi wisata favorit sekaligus studi kasus pemberdayaan ekonomi desa yang layak direplikasi.

Profil Desa Wisata Ketapanrame

Desa Ketapanrame berada di dataran tinggi dengan ketinggian sekitar 800–1.000 meter di atas permukaan laut. Kondisi geografis ini menghadirkan udara sejuk yang menjadi daya tarik alami wisatawan. Desa ini terdiri dari tiga dusun utama:

  • Dusun Ketapanrame
  • Dusun Sukorame
  • Dusun Slepi

Dengan luas wilayah sekitar 345 hektar, desa ini berjarak ±45 km dari pusat Kabupaten Mojokerto dan sekitar 60 km dari Surabaya. Lokasinya yang strategis membuat akses wisata relatif mudah bagi wisatawan lokal maupun luar daerah.

Transformasi Desa Melalui Pariwisata

Pengembangan pariwisata Desa Ketapanrame dimulai sejak 2017 dengan pendekatan berbasis komunitas. Seluruh objek wisata dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mutiara Welirang, yang menjadi motor utama penggerak ekonomi desa.

Model ini memungkinkan masyarakat menjadi pelaku langsung — bukan sekadar penonton — dalam ekosistem wisata. Mereka terlibat dalam:

  • Pengelolaan destinasi wisata
  • Operasional wahana
  • Parkir dan layanan pengunjung
  • Penjualan produk UMKM

Pendekatan ini terbukti efektif meningkatkan pendapatan desa sekaligus kesejahteraan warga.

Dampak Ekonomi Nyata bagi Warga

Pariwisata di Desa Ketapanrame memberikan dampak ekonomi yang terukur. Pendapatan desa tercatat mencapai lebih dari Rp 3 miliar, dengan sekitar Rp 530 juta berasal dari usaha desa.

Sebanyak 900 dari 1.800 rumah tangga desa terlibat langsung dalam sektor pariwisata. Distribusi perannya meliputi:

  • Investor modal BUMDes
  • Petugas parkir
  • Pedagang lokal
  • Pengelola destinasi
  • Pemilik lahan wisata

Manfaat ekonomi yang dirasakan warga antara lain:

  • Bagi hasil tiket untuk pemilik lahan
  • Pendapatan harian parkir
  • Omzet perdagangan UMKM
  • Gaji pegawai operasional

Skema ini menciptakan ekonomi sirkular yang memperkuat daya tahan desa.

Dukungan Pemerintah dan Kolaborasi Nasional

Keberhasilan desa ini mendapat perhatian nasional. Kunjungan tokoh pemerintah seperti Muhaimin Iskandar, Kartika Wirjoatmodjo, dan Muhammad Al-Barra menegaskan pentingnya kolaborasi dalam pemberdayaan desa.

Penelitian dari Universitas Negeri Surabaya juga menunjukkan bahwa keterlibatan masyarakat menjadi kunci keberhasilan pengelolaan wisata desa.

Desa BRILiaN: Inkubasi Desa Produktif

Program Desa BRILiaN yang digagas oleh Bank Rakyat Indonesia mendorong desa mengoptimalkan potensi lokal. Direktur utama Sunarso menyebut ribuan desa telah mengikuti program inkubasi ini untuk memperkuat aktivitas ekonomi berbasis potensi spesifik wilayah.

Desa Ketapanrame menjadi contoh nyata bagaimana inkubasi desa dapat menghasilkan dampak berkelanjutan.

Efek Domino bagi Wilayah Sekitar

Pertumbuhan sektor wisata tidak hanya dinikmati warga desa, tetapi juga masyarakat Kecamatan Trawas secara luas. Munculnya:

  • Warung kopi
  • Kafe
  • Toko oleh-oleh
  • Rumah makan
  • Angkringan

menunjukkan efek multiplier ekonomi yang memperluas manfaat pembangunan desa wisata.

Mengapa Desa Wisata Ketapanrame Layak Menjadi Contoh?

Beberapa faktor kunci keberhasilan desa ini:

✅ Partisipasi masyarakat tinggi
✅ Pengelolaan profesional melalui BUMDes
✅ Dukungan program nasional
✅ Ekonomi berbasis potensi lokal
✅ Kolaborasi lintas sektor

Model ini memperlihatkan bahwa desa bisa mandiri tanpa meninggalkan identitas budaya dan lingkungan.

FAQ — Desa Wisata Ketapanrame

  • Apa daya tarik utama Desa Ketapanrame?
    Udara sejuk pegunungan, wisata alam, dan pengelolaan berbasis komunitas.
  • Siapa yang mengelola wisata desa?
    BUMDes Mutiara Welirang bersama masyarakat desa.
  • Apakah warga mendapatkan manfaat ekonomi langsung?
    Ya, melalui investasi, perdagangan, parkir, dan pembagian hasil.
  • Sejak kapan desa mengembangkan wisata?
    Mulai tahun 2017 secara bertahap.
  • Mengapa desa ini menjadi inspirasi nasional?
    Karena berhasil mengintegrasikan pariwisata dan pemberdayaan ekonomi warga.

Ringkasan Akhir

Desa Wisata Ketapanrame adalah contoh nyata bagaimana pariwisata desa dapat menjadi strategi pembangunan ekonomi yang efektif. Dengan keterlibatan aktif masyarakat, dukungan program nasional, dan pengelolaan profesional, desa ini berhasil menciptakan kesejahteraan kolektif.

Model pengembangan seperti ini membuka peluang besar bagi desa-desa lain di Indonesia untuk tumbuh mandiri, berdaya saing, dan tetap berakar pada potensi lokal.

Desa Ketapanrame bukan sekadar destinasi wisata melainkan bukti bahwa masa depan ekonomi desa ada di tangan masyarakatnya sendiri.

Ajakan Wisata

Keberhasilan Desa Ketapanrame membuktikan bahwa desa wisata dapat menjadi motor ekonomi berkelanjutan. Jika Anda ingin merasakan pengalaman wisata desa yang seru dan autentik, kunjungi desawisatakarangmangu.com dan temukan inspirasi petualangan berikutnya!

Sumber: https://travel.detik.com/domestic-destination/d-8359435/ketapanrame-mojokerto-desa-brilian-raup-miliaran-dari-pariwisata

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top